blog
INDONESIA 2015 Year of Living Dangerously
December 20, 2014
3
,

edited vcv-library-co-ukTahun lalu saya menyatakan bahwa 2014 is not good, but not that bad! Kita mengalami krisis kecil. Rupiah yang melemah direspon oleh Bank Indonesia dengan menaikkan suku bunga perbankan. Pertumbuhan yang melemah adalah reaksi normal untuk mendinginkan ekonomi yang overheated.

Faktor positif di tahun ini adalah pemilihan umum, di mana menambah likuditas atas belanja kampanye. Pemilu sudah usai, Jokowi jadi Presiden. Pemerintahan baru terbentuk, harapan baru tercipta. Bagaimana dengan 2015 ? Sebagai pebisnis, penting untuk mengetahui ‘cuaca perekenomian’, seperti pentingnya seorang nelayan membaca awan. Berikut adalah analisa sederhana hasil riset internal BPR Lestari.

Pesta Telah Usai
Untuk mencoba memahami apa yang terjadi, perkenankan saya flash back beberapa tahun ke belakang. Karena apa yang terjadi sekarang dan di masa yang akan datang, tidak terlepas dari apa yang terjadi pada tahun-tahun belakangan. Tahun 2008, dunia gonjang-ganjing. Amerika Serikat dan the rest of the world rontok perekonomiannya. Indonesia, ketika itu tetap tumbuh.
Perekonomian Indonesia yang tumbuh (bersama India dan Cina), ketika seluruh dunia mengalami negative growth pasca rontoknya ditutupnya Lehman Brothers dan krisis sub-prime mortgage di Amerika Serikat ternyata menimbulkan ekses. Ketika krisis perekonomian global terjadi, penyelamatannya adalah dengan melonggarkan likuiditas selonggar-longgarkan. Ben Bernanke, FED Chairman ketika itu bahkan sampai dijuluki “Helicopter Ben”, karena berkata bahwa kalau perlu dia akan membagi-bagi uang dari helicopter. Istilah kerennya Quantitative Easing, atau kata lainnya yang lebih sederhana dari mencetak uang.

Bunga diturunkan serendah-rendahnya, supaya perekonomian tumbuh. Nah ketika prospek perekonomian di AS di titik nadir inilah, investasi berbondong-bondong keluar dari Uncle Sam. Tebak kemana? Ke developing countries, seperti Indonesia, India dan Cina. Inilah salah satu alasan (alasan lainnya adalah karena perekonomian Indonesia di-drive oleh domestic consumption), mengapa ketika seluruh dunia resesi, Indonesia 2009-2012 justru tumbuh sebaik-baiknya.

Problemnya adalah ketika disinyalir ekonomi Amerika membaik (2013) dan Federal Reserve, bank sentralnya AS mengatakan akan menghentikan Quantitative Easing (menghentikan pencetakan uang untuk membanjiri pasar dengan likuiditas). Indonesia menjadi panas dingin, karena dana-dana investasi yang tadinya mengaliri darah perekonomian Indonesia, ada kemungkinan akan pulang kampung, lantaran prospek di Amerika yang membaik. Penghentian Quantitative Easing ini sering kita dengar dengan istilah Tapering Off. Sentimen inilah yang membuat rupiah yang tadinya lumayan stabil di angka Rp 9,250 – Rp 9,500 rontok menjadi Rp 12,000-an.

Faktor lain yang membuat rupiah menjadi rontok adalah fundamental perekenomian yang buruk. Ketergantungan impor yang besar, defisit necara pembayaran, dan sebagainya. Impor yang terbesar adalah impor BBM. Jadilah kita menyaksikan di pertengahan 2013, rupiah terpuruk ke level 12,000. Jikalau tidak direspon dengan baik akan mengulang krisis di tahun 1998.

Pemerintah melalui Bank Indonesia merespon krisis kecil tersebut dengan menaikkan suku bunga secara agresif. Saya mencatat Bank Indonesia menaikan suku bunga sebanyak 6 kali dalam kurun setahun. Suku bunga pun merangkak naik dari 5,75 % sampai terakhir 7,75%. Suku bunga yang naik berarti kredit yang mahal. Artinya juga laju perekonomian diturunkan kecepatannya. Ekonomi-pun melambat.
Setahun yang lalu saya mengatakan bahwa 2014 is not going to be good. Walaupun saya tetap optimis Indonesia akan tetap tumbuh karena faktor konsumsi domestik yang tinggi dan faktor Pemilu yang membuat likuiditas banjir. “2014 is not good, but not that bad”. Begitu kalau tidak salah saya mengatakannya.

Yes! Perekonomian Indonesia 2014 tetap tumbuh walaupun melambat. Sebesar 5,5%-5,6%, demikian hasil perhitungan para ahli. Jauh dibawah laju pertumbuhan yang selalu di atas 6% sejak 2010. Rezim suku bunga rendah berakhirlah sudah. The Party Is Over!

Mesin yang Kepanasan
Ketika suku bunga rendah (2010 – 2012) dan likuiditas berlimpah, semua bergembira. Everybody is happy! Bank senang, pedagang senang. Sektor properti booming tidak karuan. Developer senang, spekulan senang, pedagang bahan bangunan senang, kontraktor yang kebanjiran order pasang harga mahal, hingga notaris pun happy. Harga mengurus sertifkat di BPN pun inflated tidak karuan. Termasuk petugas ukur pada jual mahal.

Everybody is on property. Tukang salon jadi developer, tukang bengkel mau punya hotel. Namun tidak banyak yang sadar bahwa pengucuran kredit yang gegap gempita itu tidak dibarengi dengan tingkat pengumpulan dana pihak ketiga yang memadai. Data terakhir yang saya punya mengungkapkan bahwa penyaluran kredit perbankan dari Januari 2013 – Januari 2014 itu berkisar 20% pertumbuhannya.

Data sebelumnya saya tidak punya , namun saya rasa angkanya bisa lebih tinggi (karena suku bunga lagi rendah-rendahnya). Laju pertumbuhan kredit yang 20% ini hanya di-compensate oleh laju pertumbuhan dana pihak ketiga yang dikumpulkan oleh perbankan cuma 10%-an. Artinya adalah perbankan lebih banyak menyalurkan kredit dibanding dengan kemampuannya mengumpulkan dana.

Tingkat intermediasi lagi tinggi-tingginya. Bank-bank untung besar. Walaupun di pertengahan 2013, suku bunga mulai merambah naik. Tren pertumbuhan kredit yang lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan dana terus berlanjut sampai September 2014. Walaupun gap-nya mulai mengecil.

LDR perbankan nasional mencapai 92% (Sept 2014). Artinya sebanyak 92% dari dana pihak ketiga yang dihimpun oleh perbankan itu sudah dilepas dalam bentuk kredit. Bank hanya memegang reserve 8%-an saja (ditambah permodalan sendiri). Likuditas kering. Mesinnya mulai kepanasan.

2015, Tahun Nyerempet-Nyerempet Bahaya
Rezim suku bunga rendah telah usai.
Likuiditas ketat. Ditambah dengan tersanderanya Indonesia oleh isu tapering off, plus fundamental perekenomian yang tersandera oleh impor, membuat bunga akan tetap tinggi, kredit seret, dan rupiah lemah (mudah-mudahan stabil lemahnya). Tahun depan (sebentar lagi) saya perkirakan akan merupakan kelanjutan dari 2014. The price we have to pay for the party! Siklus ekonomi yang memang harus kita lewati setelah booming period 2010-2012.
Ditambah lagi pengalihan subsidi BBM akan short term meningkatkan inflasi, yang pada ujungnya bunga akan kembali terkerek naik. Semua pengamat setuju pertumbuhan 5% – 5,5%-an. Kurang lebih sama seperti 2014. Bank-bank akan berkonsolidasi. Likuiditas akan tetap ketat, namun perlahan melonggar. Artinya kredit seret dan mahal.

Cahaya Di Ujung Terowongan
Terpilihnya Jokowi sebagai Presiden RI ke-7 memberikan angin segar. WHY JOKOWI MATTERS pernah saya tulis di edisi sebelumnya. Terpilihnya Jokowi yang pedagang furnitur, namun didukung oleh sebagian besar rakyat jelata, mengalahkan Prabowo yang jendral berdarah biru dan didukung oleh elit, menandakan Indonesia berhasil berdemokrasi. Jokowi jadi presiden tanpa adanya darah tertumpah. Berarti Indonesia berhasil melewati salah satu rintangan terberatnya untuk menjadi negara yang maju, beradab dan sejahtera.

Demokrasi, adalah sistem politik yang telah berhasil membawa Amerika dan Barat mencapai kesejahteraan yang belum pernah kita saksikan sebelumnya dalam sejarah peradaban modern. Dan kita pun jika konsisten dan berhasil melaksanakannya, kelak akan bergabung dengan negara-negara maju yang makmur dan sejahtera.

Melihat Presiden Jokowi bekerja, rasanya tidak berlebihan kalau saya optimis. Ada gebrakan, pembaharuan, cara baru, cara pandang baru. Busines is Not Usual! Keberhasilan awal Pak Jokowi ‘mengalihkan subsidi BBM’ merupakan sinyal yang berarti. Kebijakannya sudah benar. BBM yang mahal akan membuat prilaku yang hemat energi. Seperti istri saya yang wanti-wanti kalau ganti mobil harus dengan mobil yg irit. “CC-nya yang kecil, biar irit”, demikan katanya.

Secara agregat perilaku ‘berhitung’ dengan BBM ini akan mengurangi impor BBM. Apalagi jika timnya pak Faisal Basri bisa membenahi tata niaga impor BBM yang merusak itu. Artinya, kalau bauran kebijakannya benar, perlahan kita bisa keluar dari kecanduan impor (tentunya PR-nya masih banyak, masalah perijinan, buruh, suku bunga, industrialisasi, dsb). Perjalanan masih panjang, namun langkah pertama sudah benar.

Pengalihan subsidi BBM ini juga membuat pemerintahan Presiden Jokowi memiliki “suntikan darah”. Jika memperhitungkan harga minyak internasional yang turun, ada kelonggaran fiskal 200-250 triliun (Tony A Prasetianto). Dana ini bisa menyegarkan likuiditas pasar yang kering.

Tahun 2015 yang nyerempet-nyerempet bahaya tadi harus kita lalui. Setelah itu (2016) kita akan lebih segar untuk melaju lebih kencang. Tahun depan itu kita menghadapi krisis kecil. Dan ketika krisis, selalu tercipta opportunity, walaupun bahaya mengancam.

Buat BPR Lestari, berdasarkan pengalaman saya menghadapi berbagai krisis, dalam setiap krisis selalu tercipta opportunity. Kuncinya adalah likuiditas. Ketika krisis, Cash Is The King! Ketika krisis, kita punya kesempatan untuk melaju lebih kencang dibandingkan dengan kompetitor. ketika krisis kita punya kesempatan melatih para karyawan kita. Tahun depan memang tidak gampang, namun saya percaya, there is the light at the end of the tunnel. Dan percayalah Habis Gelap Terbitlah Terang.

About author

alexpchandra

Pendiri BPR Lestari. Sekarang BPR #3 se-Indonesia dr sisi asset. Membangun bisnis dari nol sejak 14 thn yg lalu. Sekarang chairman grup bisnis Lestari.

Related items

/ You may check this items as well

virgin air( id.wikipedia.org)

Asymmetric Risk/Reward

Tahun lalu saya menyatakan bahwa 2014 is not good,...

Read more

2015: YEAR OF LIVING DANGEROUSLY (PART 2)

Tahun lalu saya menyatakan bahwa 2014 is not good,...

Read more
lessbeatenpaths.com

Purposeful Abandonment

Tahun lalu saya menyatakan bahwa 2014 is not good,...

Read more

There are 3 comments

  • agung says:

    Membuat yg rumit jadi mudah dipahami itu sulit, dan pak Alex berhasil. Terima kasih.

  • Thanks for the sharing bro…Merry Christmas

  • Leave a Reply