Business Life Motivation
How I Do You My Business (1)
April 13, 2018
0
hhh

Mau bisnis apa? Itu adalah pertanyaan yang sering ditanyakan oleh setiap orang yang ingin menjadi pengusaha.

Demikian juga pertanyaan saya, ketika memutuskan pindah kuadran 18 tahun yang lalu.

Setelah berkarir sebagai profesional bankir selama 7 tahun, saya kemudian memutuskan untuk pindah kuadran jadi ‘pengusaha’.

Dengan uang pinjaman (dari ayah saya) dan dengan semangat 45 saya memulai perjalanan karir saya sebagai pebisnis dengan :

  • Berkongsi dengan teman saya membuka Money Changer
  • Berkongsi dengan ‘desainer asing’ bikin clothing line

Dan dalam perjalanannya saya juga:

  • Berjualan sandal
  • Berjualan mobil bekas
  • Berjualan furniture

Banyak bener yaa…. ^_^

Hampir semuanya berkongsi dengan pihak ketiga; terakhir saya mengakuisi BPR Lestari yang saya kelola sendiri.

Sejarah mencatat semua proyek kongsi saya gagal. Yang berjualan mobil bekas walaupun saya kelola sendiri juga gagal. ☹

Hanya BPR Lestari yang saya akuisisi dalam keadaan merana 18 tahun yang lalu, yang kemudian berhasil tumbuh menjadi bisnis yg sehat dan menguntungkan. Waktu diakusisi assetnya cuma 300juta itupun 200 juta nya kredit macet. Kini Lestari Group bukan cuma ada di Bali, namun juga di 5 propinsi di Jawa. Total 19 kantor dengan total asset kelolaan hampir 5 Triliun (Maret 2018).

Kalau boleh saya menyimpulkan, berdasarkan pengalaman 18 tahun tadi, ada beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan ketika memutuskan mau bisnis apa:

  • Passion

Apa yang menjadi passion kita. Karena kalau kita suka kita akan terus belajar, bekerja bagaikan bermain. Kalau kita suka kita akan bisa menjadi ahli.

Hampir semua bisnis saya yang gagal dikarenakan saya tidak punya keahlian di bidang tersebut. Yang money changer cukup berhasil (hasil keuntungan usaha money changer yang kemudian digunakan untuk ‘membeli’ bank).

Sehingga di tahap awal, saya menyarankan menemukan apa yang kita suka dahulu, karena kalau kita sudah suka kita bisa menjadi ahli. Namun selain yang kita sudah suka kita bisa menjadi ahli. Namun selain yang kita suka ada beberapa hal lainnya yang sama pentingnya:

  • Yang kita bisa; suka tapi tidak atau berbakat. Maka tidak bisa menjadi profesi. Tidak ideal dijadikan pilihan bisnis. Misalnya saya suka bernyanyi, saya mau menjadi penyanyi. Tapi anak saya selalu berkata “papa suaranya bagus, tapi lebih bagus lagi kalau tidak bernyanyi” -_-

Saya tidak ‘bisa’ jadi pedagang sandal yang baik, saya tidak bisa jadi pedagang mobil bekas yang baik, namun saya cukup punya keahlian sebagai seorang bankir.

  • Yang menghasilkan. Pilih bidang usaha yang ada nilai ekonomisnya. Yang ada ‘needs’-nya di pasar. Yang diinginkan oleh pasar. Yang memecahkan masalah. Yang menjadi solusi buat ‘penderitaan’ orang lain.

Find Out What They Want… demikian formulanya. Dan ada yang ‘beli’ (baca;mau bayar).

Kalau cuma suka namun tidak menghasilkan, lama kelamaan kesukaannya akan pudar. ^_^

  • Yang scale-able. Yang bisa ditingkatkan skala usahanya.

Terakhir :

  • Yang dikerjakan. Kalau kata alm. Om Bob Sadino, bisnis yang baik adalah bisnis yang dikerjakan. Bukan bisnis yang ditanya-tanyakan melulu. ^_^

About author

alexpchandra

Pendiri BPR Lestari. Sekarang BPR #3 se-Indonesia dr sisi asset. Membangun bisnis dari nol sejak 14 thn yg lalu. Sekarang chairman grup bisnis Lestari.

Related items

/ You may check this items as well

Modern business skyscrapers seen from the window. General view panorama. Financial, economics, future etc. concept.

Economic Common Sense!

Mau bisnis apa? Itu adalah pertanyaan yang sering ...

Read more
x factor

What is Your X Factor?

Mau bisnis apa? Itu adalah pertanyaan yang sering ...

Read more
(growingwithgratitude.com.au) - Copy

The Wealthies Person on Earth is One Who Appreciates

Mau bisnis apa? Itu adalah pertanyaan yang sering ...

Read more

There are 0 comments

Leave a Reply