Business Entrepreneur Startup
Disruptive
July 13, 2017
1
, , ,
disruptive

disruptive

“Yang saya takutkan adalah kita tidak tahu apa yang kita tidak tahu”

Ini kelanjutan tulisan kemarin mengenai teknologi yang disruptive. Contohnya yang kemarin saya pakek adalah Uber.

Blue Bird punya aset yang seharusnya kagak gampang-gampang dikalahin. Para sopirnya yang telatih dan culture pelayanan yang lumayan bagus. Ini ngebangunnya puluhan tahun.

Di sisi ini, kayaknya teknologi juga kagak gampang-gampang amat menggantikan ‘manusia dan budaya’.

Harusnya kalo Blue Bird mau ngejer di sisi teknologi (ini bisa lebih cepat dibandingkan waktu puluhan tahun membangun ‘manusia dan budaya).

Blue bird di Indonesia bisa melawan. Tentunya beberapa bisnis modelnya bisa di-adjust , seperti misalnya kemungkinan ‘sharing’ sehingga mobilnya bisa tersedia banyak jadi memudahkan, pelanggan yang bisa merating driver dsb.

Belum lagi akumulasi kapital yang sempat dibangun selama puluhan tahun merajai bisnis pertaksian membuat Blue Bird rasanya sanggup ‘marathon’.

Jadi selama saya ’tidak tahu’ apa yang saya tidak tahu, strategi yang paling baik adalah terus membangun competitive advantage, dalam hal ini membangun manusia dan budaya-nya. Keep adjusting and see what happen.

sumber gambar : enterprisegarage.io

About author

alexpchandra

Pendiri BPR Lestari. Sekarang BPR #3 se-Indonesia dr sisi asset. Membangun bisnis dari nol sejak 14 thn yg lalu. Sekarang chairman grup bisnis Lestari.

Related items

/ You may check this items as well

alex 5

Nasi Uduk Ibu Iis – Demokratisasi Marketing

“Yang saya takutkan adalah kita tidak tahu apa y...

Read more
tesla

Tesla

“Yang saya takutkan adalah kita tidak tahu apa y...

Read more
Uk Ig Open House

My Passion Project (2)

“Yang saya takutkan adalah kita tidak tahu apa y...

Read more

There is 1 comment

  • Rickysalim says:

    Iya culture dan SDM didalam perusahaan itu penting sekali … y

  • Leave a Reply