blog
APBN Itu Uang Siapa?
October 31, 2014
3
, , , , , ,

“Uangmu uangku, Uangku uangku”, demikian kata istri saya. Pertanyaannya, kalau APBN itu uang siapa?

ImprimirPernyataan Presiden terpilih Jokowi tersebut terbilang mengejutkan. Biaya rapat di APBN 16 triliun? Wow! Itu rapat apa? 16 triliun itu sama dengan 16 ribu milliar. Untuk apa saja uang sebanyak itu? Kalau rapat kan paling beli lemper sama minum teh botol.  Saya hampir rapat setiap hari. Rapatnya pakai BBM (Blackberry Messanger) saja. Bahkan enggak perlu beli lemper. Zero cost! Biaya perjalanan dinas mencapai 23 triliun. Itu lebih “wow” lagi.

Bulan lalu, saya mengajak executice team BPR Lestari berwisata ke Sydney. Total hampir 50 senior staff yang berwisata ke Benua Kangguru itu. Biayanya 1 miliar lebih, ya hampir 25 juta per-orangnya. Yang menarik adalah komentar adik saya, yang tahun lalu tur keliling Eropa. Dia bilang, kok harganya hampir sama dengan dia bayar buat tur ke Eropa selama 10 hari?

Beberapa minggu lalu, saya dan tim berangkat ke Jakarta. Ada seminar di sana. Saya berniat menghadirinya, karena kelihatannya bagus. Penyelenggara seminar itu adalah BCA. Saat itu, openingnya oleh Pak Jahya, CEO BCA dan keynote speech-nya Ibu dari Ibu Mari Elka Pangestu serta ada pula Ridwan Kamil.

Asisten saya yang mengatur perjalanan kami ke Jakarta, mulai dari beli tiket hingga booking hotel. Saya pun memperhatikan caranya tersebut. Ia terlihat menghubungi travel agent langganannya, langsung memesan tiket dan hotelnya dengan begitu cepat, mudah, dan sederhana. Pertanyaannya, kenapa dia tidak booking lewat online booking? Mengapa dia tidak mengecek dulu beli lewat mana yang lebih murah?

Saya membayangkan istri saya kalau merencanakan perjalanan. Dia meneliti segala kemungkinan untuk mendapatkan harga yang paling fair (kadang kala bukan yang paling murah, tapi paling fair, sesuai dengan value-nya. Catatan: saya insist kalau terbang naik Garuda). Mengapa perilaku istri saya yang merencanakan perjalanan, berbeda dengan prilaku asisten saya? Mengapa pula sudah menjadi kenyataan bahwa kendaraan inventaris kantor biasanya cepat rusak dan tidak terawatt? Mengapa pembelian suplai kantor dari vendor harganya selalu naik? Mengapa perusahaan kecil biasanya lebih hemat dibandingkan dengan perusahaan besar?

Perusahaan kecil biasanya lebih hemat, karena dananya terbatas dan owner-nya masih bisa mengontrol ketat pengeluaran. Sang pemilik mempunyai kepentingan terhadap cost control. Bahkan seringkali bablas menjadi pelit. Perusahaan besar biasanya sudah mendelegasikan pembelian kepada departemen pembelian. Nah, sang manajer pembelian ini biasanya (tidak selalu) tidak sengotot sang owner dalam menegosiasi biaya. Toh, bukan uangnya sendiri. Pemborosan kecil di sana-sini, akhirnya bisa menjadi signifikan angkanya. Apalagi jika dikalikan dengan jumlah tahun.

Cost control memang bukan hal yang strategis. Jarang perusahaan bisa mengandalkan cost control sebagai strategi memenangkan persaingan (kecuali perusahaan-perusahaan yang memang menggunakan cost sebagai value, misalnya Air Asia). Cost control adalah bagian dari operasional perusahaan. Kesadaran biaya seharusnya menjadi integral part dari keseharian kegiatan kantor –menjadi kultur. Tantangan untuk cost conscious menjadi semakin besar, ketika perusahaannya berkembang, cash-nya melimpah, untungnya banyak.

Saya harus sering mengingatkan tim saya di BPR Lestari bahwa kita punya tantangan untuk berhemat (bukan pelit). Kalau perlu keluar biaya ya tidak apa-apa. Tapi lakukan dengan benar. Artinya cobalah berpura-pura bahwa uang yang kita bayarkan itu keluar dari kantong sendiri. Kita lebih sulit berhemat karena cash rich. Tidak pernah ada kesulitan cash. Saya personally  cenderung boros, apalagi kalau untungnya lagi banyak. Namun sekarang ini lebih terkontrol, karena Pak Pribadi, Dirut Lestari ternyata lebih disiplin terhadap anggaran dibandingkan saya. Perusahaan saya yang lain relatif lebih bisa berhemat, karena uangnya juga tidak banyak.

Kembali ke masalah biaya rapat yang 16 triliun itu, saya pikir gejalanya mirip dengan di korporasi. Bahkan lebih ekstrim. Korporasi jika terlalu boros, akhirnya akan berpengaruh dengan profit and loss-nya. Sang CEO akhirnya kena dampak. Seluruh karyawan juga kena dampaknya. Bonus turun, kenaikan gaji bisa tertunda. Di birokrasi fenomena ini menjadi lebih parah. Tidak ada profit and loss. Tidak ada insentif buat berhemat. Makanya ada istilah ‘menghabiskan anggaran’.

Menghabiskan anggaran adalah fenomena aneh yang tidak dikenal di dunia korporasi. Bukankah sisa anggaran biaya yang tidak terpakai, kalau tidak terpakai akan mengurangi biaya, sehingga labanya bertambah? Kenapa harus dihabiskan? (Oh saya lupa, karena di APBN tidak ada profit dan loss-nya.)

Uang APBN itu adalah uang rakyat yang dikumpulkan dari kerja keras kita setiap hari yang disetor ke negara untuk membangun jalan, mensubsidi rakyat miskin, melindungi negara, menggaji polisi, jaksa dan hakim, untuk membangun pembangkit listrik, jalan tol, rumah sakit, dan sekolah. Bukan uang “jin” yang boleh dimakan sama setan.

About author

alexpchandra

Pendiri BPR Lestari. Sekarang BPR #3 se-Indonesia dr sisi asset. Membangun bisnis dari nol sejak 14 thn yg lalu. Sekarang chairman grup bisnis Lestari.

Related items

/ You may check this items as well

(growingwithgratitude.com.au) - Copy

The Wealthies Person on Earth is One Who Appreciates

“Uangmu uangku, Uangku uangku”, demikian kata ...

Read more
Businessman Touching Domino Pieces Arranged in a Line --- Image by © Royalty-Free/Corbis

Aksi – Reaksi

“Uangmu uangku, Uangku uangku”, demikian kata ...

Read more
virgin air( id.wikipedia.org)

Asymmetric Risk/Reward

“Uangmu uangku, Uangku uangku”, demikian kata ...

Read more

There are 3 comments

  • The Icon says:

    Brarti uang kita selama ini dianggap uang “Jin” sehingga banyak setan yg gentayangan memakannya pak! He he he

  • Semoga APBN yang sekarang ga d makan setan pak :)

  • Leave a Reply