blog
2015: Year Of Living Dangerously (Part 2)
September 8, 2015
3

17655-NR7UZF

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN SAAT KRISIS?

 “Senin 24 Agustus 2015, indeks JKSE 4,163 drop 172 point dari posisi sebelumya. Terkoreksi hampir 20% dari angka tertingginya. Rupiah terkoreksi sampai 14,000 per USD-nya. Ini level terendah yang dialami oleh Rupiah sejak krisis moneter 1998”.

Akhir tahun lalu (Desember 2014), saya menulis artikel ‘Indonesia 2015: Year of Living Dangerously.’  Artikel itu saya muat di Bali Post dan di blog saya ‘Notes from A Friend’ – alexpchandra.com. Tulisan itu merupakan hasil diskusi dan riset sederhana di internal BPR Lestari untuk menganalisa kondisi perekonomian terkini sebagai dasar kami membuat business plan dan langkah-langkah strategis korporasi.

Waktu itu saya menulis, bahwa rupiah akan tetap rendah (alasannya, karena defisit dan tersandera oleh isu AS yang akan menaikkan suku bunga). Saya menulis rupiah akan tetap rendah, namun mudah-mudahan stabil. Ternyata, saya hanya benar separuhnya, yakni rupiah tetap rendah, namun tidak stabil. Saya menulis, bahwa bunga akan tetap mahal. Rezim suku bunga murah sudah selesai. NPL perbankan akan naik. Pertumbuhan akan melambat. The party is over!

Apa yang terjadi sekarang? Bunga mahal, NPL perbankan naik, pertumbuhan melambat, omzet usaha terkoreksi 20%-30%, dan rupiah terpuruk ke level terendahnya. Sektor properti yang booming tahun-tahun sebelumnya, kini halt.

Kini setelah satu semester berlalu, kami di internal BPR Lestari kembali mencoba mendiskusikan perkembangan yang terjadi. Berikut adalah beberapa insight yang kami simpulkan.

What’s Wrong With Indonesia?

Apa yang salah dengan kita? Apa bedanya Indonesia sekarang dengan 2010-2012? Apakah lebih baik ataukah lebih jelek? Terus terang, saya dengan data yang terbatas (kami bukan lembaga riset), saya tidak bisa secara kasat mata  menyatakan we are now in a worse shape dibandingkan dengan periode booming dahulu (2010-2012). Walaupun, juga bukannya lebih baik.

Dari dulu kita juga defisit. Impornya kebanyakan, enggak beda dengan sekarang. Dari dulu, cadangan devisa kita ya sekitaran 100 miliar dolar, enggak jauh beda dengan sekarang. Dari dulu juga kita tidak membangun infrastruktur.

Saya beragumentasi di tulisan saya terdahulu, bahwa perlambatan ekonomi yang dialami oleh Indonesia (2013-2015) merupakan siklus alami setelah periode booming 2008-2012. Ketika itu bunga murah (termurah sepanjang sejarah Indonesia), likuiditas banjir, dan pertumbuhan ekonomi 6%-an stabil. Kalau kita belajar ilmu ekonomi, setiap periode booming akan diikuti dengan stabilisasi dan resesi.

Setiap periode booming akan diikuti oleh market madness. Optimisme yang berlebihan dari para pelaku pasar, over-investment dan spekulasi. Contohnya bisa kita liat secara kasat mata dari bisnis properti di Bali, di mana harga tanah yang ‘out of the economic price’. Pembangunan hotel yang berlebih dan seterusnya. Perasaan bahwa harga akan naik seterusnya tanpa batas. Nah, kondisi tersebut yang kita sebut sebagai ekonomi yang kepanasan, overheated! Inflasi bisa tidak terkendali, kalau tidak distabilkan.

Jadi market koreksi diperlukan sampai terjadi kestabilan yang baru. Pemerintah dan bank sentral memainkan peranannya melalui instrumen fiskal (pajak dan belanja) serta instrumen moneter (suku bunga). Dalam hal ini, bank sentral menaikkan suku bunganya untuk slowing down the economy. Jadi, so far perlambatan ekonomi yang terjadi adalah wajar, sesuai textbook.

Argumentasi saya adalalah bahwa kita ini sedang mengalami ‘resesi’ setelah pesta kemarin. Hangover-nya harus dilalui dulu, pusing-pusing sedikitlah. The party is over, waktunya cuci-cuci piring.

Secara fundamental, Indonesia 2015 tidaklah berbeda jauh dengan Indonesia 2010-2012. Bahkan dari sisi kebijakan, kita sudah lebih baik sedikit. Subsidi BBM dikurangi dan akan dialihkan ke sektor produktif. Ini berarti di tahun 2015 saja, ada sekitar 150 triliun alokasi budget dari sekedar konsumsi BBM ke sektor yang produktif  dan lainnya.

Naiknya harga BBM akibat subsidi yang dikurangi ini akan menekan konsumsi, dan pada ujungnya akan mengurangi impor (impor kita terbesar adalah impor energi). Jadi kebijakan ini akan juga mengurangi defisit.

Tapi Kenapa Kok Jadi Begini?

Setiap periode resesi secara teori harusnya pemerintah mengawalnya, agar soft landing, agar resesinya tidak terlalu terasa, agar pabrik-pabrik tidak sampai tutup, dan agar perusahaan tidak PHK. Sampai terjadi kestabilan dan periode take off yang baru. Namun sayangnya, ada beberapa kebijakan pemerintah yang tidak kena dalam mengawal kita melalui periode resesi ini.

Dalam berbagai texbook diajarkan, ketika resesi, semestinya pemerintah bisa mengintervensinya melalui instrumen yang dimilikinya, yaitu fiskal (pajak dan belanja) dan moneter. Biasanya supaya resesinya soft dan tidak terasa, pemerintah akan mengeluarkan insentif perpajakan dan memperbesar belanja. Kalau perlu sampai berhutang. Di sisi moneter, menurunkan bunga, supaya kredit murah, sehingga konsumsi naik dan seterusnya.

Namun di awal-awal, pemerintah kita malah mengenjot pajak. Perusahaan yang omzetnya sedang turun, kini diintensikan penagihan pajaknya. Baik maksudnya, namun tidak tepat timing-nya.

Belanja negara bukannya diakselerasi, malahan pada semester pertama pada macet. Duitnya masih banyak tersimpan di bank-bank daerah. Untuk instrumen suku bunga, sayangnya Bank Indonesia tidak leluasa menurunkannya, karena harus menjaga rupiah yang tertekan, lantaran sentimen global. No option di sini.

Pengalihan subsidi BBM walaupun baik maksudnya, namun ternyata salah juga timing-nya. Kenaikan beban masyarakat akibat berkurangnya subsidi, tidak segera diikuti dengan manfaatnya. Ada lagging di sini. Harga-harga yang naik (akibat kenaikan harga BBM) yang tidak diikuti oleh kenaikan pendapatan (omzet perusahaan turun), membuat konsumsi turun drastis. Apalagi bunga mahal dan likuiditas ketat. Kredit seret, tambah terpuruklah konsumsi kita.

Kita adalah negara yang ekonominya di-drive oleh konsumsi domestik. Ekspor kita tidak seberapa. Nah, ketika konsumsi domestik yang turun (harga naik, bunga mahal, dna pendapatan tidak naik), terasa beratlah krisis ini.

Who is in Charge?

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa pemerintah kita malah mengintensifkan pajak di tengah ekonomi yang melesu? Mengapa belanja terlambat, dan mengapa pengalihan subsidi BBM tidak segera dirasakan oleh rakyat jelata?

Saya tidak ahli politik, namun ini rasanya ada kaitannya dengan efektivitas pemerintahan yang baru terbentuk. Mungkin Presiden Jokowi perlu waktu untuk mengonsolidasikan para pembantunya supaya efektif bekerja dan tidak tumpang tindih. Contoh nyatanya adalah kebijakan Dirjen Pajak mengeluarkan edaran kepada bank-bank untuk menginformasikan besaran potongan pajak deposito pada nasabahnya.

Pak Dirjen yang terlalu bersemangat ini lupa, bahwa surat edarannya akan bertentangan dengan UU Perbankan mengenai kerahasiaan bank. Saya curiga ketentuan ini berefek kepada capital flight. Ini sendiri bisa menjelaskan mengapa DPK perbankan nyaris tidak tumbuh pada semester pertama (surat edaran ini akhirnya dibatalkan).

Kasus dwelling time di Tanjung Priok, di mana Pak Jokowi dipresentasikan ‘simulator control’ yang palsu.  Pelarangan penjualan bir yang ujug-ujug dan  Belanja yang terhambat, walaupun sudah diinstruksikan berkali-kali adalah contoh-contoh yang kasat mata, di mana kita sebagai rakyat bisa melihat betapa ‘mesin’ pemerintah tidak efektif berkerja.

Agar bisa kita melewati resesi ini, we need effective government and we need it now! Kita kurang beruntung, bahwa resesi terjadi ketika pemerintahan baru terbentuk. Butuh waktu memang untuk mengonsolidasikan ‘power.’ Dan sayangnya waktunya Pak Jokowi untuk mengonsolidasikan ‘power’-nya tidak banyak.

Devaluasi Yuan

Satu hal yang tidak ‘terprediksi’ dalam tulisan saya terdahulu adalah tiba-tiba Cina mendevaluasi mata uangnya. Rupiah mendapatkan tekanan tambahan, anjlok ke level terendahnya. Prediksi saya bahwa rupiah akan tetap lemah, terbukti. Malahan tambah lemah. Harapan saya supaya rupiah stabil walaupun lemah, tidak terwujud.

Walaupun demikian saya tidak cukup mengerti, mengapa ‘jatuhnya’ rupiah begitu menggemparkan.  Semua currency juga jatuh. Beberapa jatuhnya lebih parah dibandingkan rupiah. Bahkan rupiah menguat terhadap EURO dan AUD. Ringgit Malaysia juga jatuh. Mungkin karena kita ‘trauma’ dengan Krismon 1998, di mana rupiah jatuh dari 2,500 ke level 15,000-an. Jadi, ketika kini rupiah menyentuh 14,000,- bayangan Krismon yang menjungkirkan langit, teringat kembali.

Sebenarnya kalau diikuti logikanya, Cina mendevaluasi Yuan-nya, karena ekonominya melambat terus. Setelah sekian tahun tumbuh terus di atas 10%-an, 3 tahun belakangan Cina melambat terus. Tahun depan diprediksikan melambat lagi. Cina seolah ‘kepanasan’.

Karena Cina itu enggak karu-karuan “besar”-nya, melambatnya Cina ikut mengakibatkan menurunnya permintaan energi. Menurunnya permintaan dan juga karena anjloknya harga minyak,  makanya harga komoditi juga jatuh.

Nah, Cina mendevaluasi Yuan-nya, tujuannya agar ekspornya naik lagi. Bahkan ada kabar bunga akan diturunkan. Tujuannya supaya ekonominya pulih lagi.  Nah, kalau Cina bisa recovery cepat, permintaan komoditi akan naik lagi, membantu Indonesia. Ingat enggak jaman jaya-jayanya batubara? Itu karena permintaan dari Cina lagi tinggi-tingginya, sampai-sampai kalau tidak salah Jupe-pun berbisnis batubara.

Mengenai impor yang jadi mahal, ya, kita jangan beli barang impor. Kurangi sedikit addiction to import-nya. Yang jadi masalah memang bahan baku dan beberapa bahan makanan (kedelai) masih dimpor. Ya, sementara jangan makan tempe. Kita punya beras, jagung, ketela, sayur-sayuran, sapi ada, ayam ada. Pengusaha elektronik, industri yang bahan bakunya impor memang akan terpukul.

Saya pikir, untuk masalah Rupiah ini, kita tidak bisa berbuat banyak. Ini permainan global. Fokus saja bagaimana menggerakkan kembali perekenomian. Kalau pendapatan masyarakat naik, barang mahal pun kebeli. Ayah saya selalu berkata, kita tidak perlu takut harga naik, yang kita takutkan adalah kita tidak punya pendapatan.

Oke, Sekarang Harus Bagaimana?

Sebagai pebisnis, kita tidak bisa mengubah kondisi makro. Tugas kita adalah menavigasi bisnis dan perusahaan kita mengarungi ‘badai topan’. BPR Lestari mudah-mudahan bisa melewati ‘badai topan’ ini dengan baik. Kita sudah bersiap-siap dari tahun kemarin. Wisdom-nya adalah ketika krisis “Cash is King”.

Likuditas kita kelola dengan prudent, malahan cenderung boros. Policy kita untuk LDR adalah 70%-75%, artinya kredit yang dilepas hanya berkisar 70% sampai 75%-an dari jumlah dana yang kita kelola. Yang 25%-an adalah cadangan likuiditas. Dengan likuiditas yang boros tadi, sampai sekarang BPR Lestari tetap menyalurkan kredit. Rencana bisnis 2015 kita tidak revisi. Ketika kompetitor ngerem, kami terus berekspansi.

Semester pertama, Asset kami kami tumbuh 25%-an dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Profit masih tumbuh 6%-an dan Non Performing Loan memang naik menjadi 0,9%, namun manageable. Dan jika dibandingkan dengan rata-rata industri, kami masih jauh lebih baik. Posisi per Agustus malahan lebih baik lagi, NPL turun ke 0,5%, aset tetap tumbuh 25%-an, dan profit membaik. So far so good!

Seperti argumentasi saya di atas, kita menganggap secara fundamendal, Indonesia is just fine! Tidak bagus-bagus amat, namun secara fundamental tidak banyak perbedaannya dibandingkan dengan kondisi ketika booming years. Saya percaya, bahwa yang kita alami adalah siklus ekonomi ‘normal’ yang diperparah karena government incompetence, sehingga market sentiment, kemudian menghukum kita lebih parah dari seharusnya.

Dunia secara global memang melesu, pemicunya adalah Cina yang slowing-down. Tidak banyak yang bisa kita lakukan. Nah, ketika konsolidasi power-nya Pak Jokowi selesai, pemerintah sudah take action. Pasar juga akan melihatnya, sentimen akan berbalik. Jadi saya optimis ini temporary, bukan fundamental.  Karenanya BPR Lestari tidak merevisi business plan-nya. Kita akan terus berekspansi sesuai dengan rencana bisnis sebelumnya.

Ketika sentimen berbalik, dana akan kembali masuk. Rupiah akan menguat ke titik equilibriumnya yang baru. Life goes on! Kita hanya perlu bertahan. Bahkan jika Anda mempunyai pondasi yang kuat dan posisi yang benar, kemungkinan akan keluar dari krisis ini stronger than ever.

Saya teringat cerita teman saya tentang orang yang dikejar beruang. Ketika kita dikejar beruang, kita tidak perlu berlari lebih cepat dari beruang. Katanya, kita hanya perlu lari lebih cepat dibandingkan dengan tetangga sebelah.

Semoga bermanfaat. Salam.

About author

alexpchandra

Pendiri BPR Lestari. Sekarang BPR #3 se-Indonesia dr sisi asset. Membangun bisnis dari nol sejak 14 thn yg lalu. Sekarang chairman grup bisnis Lestari.

Related items

/ You may check this items as well

virgin air( id.wikipedia.org)

Asymmetric Risk/Reward

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN SAAT KRISIS?  “Seni...

Read more
lessbeatenpaths.com

Purposeful Abandonment

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN SAAT KRISIS?  “Seni...

Read more
edited vcv-library-co-uk

Indonesia 2015 Year of Living Dangerously

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN SAAT KRISIS?  “Seni...

Read more

There are 3 comments

  • Ketut jaya Harnawa says:

    saya sangat menyukai dan mengikuti tulisan yang dibuat oleh pak alex setiap tahun tentang prediksi tahun yang akan datang dan saya sungguh sangat terkesan atas prediksi tiap tahun yang dibuat oleh BPR lestari. walaupun team statistik merupakan bukan spesialis team research. tapi prediksinya bisa dibuat untuk membuat bisnis plan secara general…

  • sunny says:

    Salam Pak Chandra. Terus menulis ya, senang sekali mengikuti alur tulisan bapak. Mengalir, saoam sehat.

  • sunny says:

    Saya anak studi pembangunan UKSW, Salatiga. Tahun 2008 saya pernah mewawancarai Miranda Gultom di Udayana, Sudirman, Denpasar. Sekarang saya bekerja sebagai karyawan swasta tapi saya suka menulis buat koran mahasiswa SA, Satya Wacana. Jikalau ada waktu saya ingin mewawancarai Bapak. Terima kasih. Salam sehat.

  • Leave a Reply